Minggu, 18 Desember 2011

bersambung

 Tuhan, ingin ku protes akan semua ini. Namun aku sadar, betapa berlumpurnya diriku ini. Betapa, tinta hitam yang tiap detiknya mengisi kekosongan kertas-kertas yang Engkau berikan seiringan dengan tabularasa-Mu. Tuhan, selalu kusadari akan keserbakekuranganku, makanya ingin-tak kuprotes dengan pemberian telunjuk keMahaBesaranMu. Setiap kali ingin ku kirimi surat protes untuk-Mu, namun tak jadi. Selalu dihentikan oleh nikmat syukur yang telah Engkau Ridhoi. Tuhan, terlalu munafik diriku kepadaMu, Tuhan terlalu lancang keprotesanku kepadaMu. Ahhhh, selalu begini. Polesan-polesan indahMu selalu membuat pemberontakan dalam hati kecilku, terkadang selalu menimbulkan rasa ingin tahu "mengapa?". Sujud demi sujud kucari jawabannya, namun Engkau terlalu mencintaiku dalam balutan "mengapa" itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar